Hei kamu,
apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja, karena kalau buruk pun bisa apa aku
dari jauh sini? Haha. Banyak hal yang ingin aku ceritakan dan dengarkan dari
kamu. Jika aku tidak bisa mendengarkan cerita kamu, setidaknya hari ini aku
akan berusaha bercerita padamu. Aku mau jujur sesuatu, tapi aku takut kamu
menertawakan jadi lebih baik aku mengatakannya lewat surat ini.
Begini,
jadi sejak kita lost contact sebenarnya aku berusaha tidak memperdulikan kamu.
Tidak memperdulikan bukan berarti aku tidak
peduli sama sekali. Aku pikir mungkin kamu sedang sibuk menata masa
depanmu, jadi aku biarkan saja kamu berkembang sendiri, aku takut jika aku
mencoba menghubungimu justru akan menganggumu, aku berusaha melawan egoku demi
kebahagiaan kamu. Beberapa bulan setelah kamu tidak ada kabar sama sekali,
akhirnya aku tidak lagi mengingat-ingat kamu. Kamu tau? Aku didekati oleh
seorang dokter, bahagia memang. Ingat tidak saat ayahklu sakit? Dokter muda dirumah
sakit itu akhirnya menjadi kekasihku, tapi malang hubungan itu tidak berjalan
lama. Aku tidak nyaman dengan dokter itu, meskipun teman-temanku bilang ‘bodoh
banget sih lo blablabla.’ Kalau aku tidak nyaman mau diapakan lagi?
Setelah
aku memutuskan untuk mengakhiri saja hubungan itu, dia masih berusaha mengajak
kembali namun tidak aku respon, aku tidak mau
menerima seseorang hanya karena apa yang dia punya sedangkan aku tidak
benar-benar mencintainya. Memang dia tampan, kaya, pintar, tapi aku tidak
senyaman saat aku berhadapan dengan kamu. Sejak saat itu aku mulai merindukan
kamu lagi, aku mencoba bertanya pada temanmu dan dia bilang dia juga lost dari
kamu. Aku memberanikan diri menelpon kamu, gengsi? Ah peduli apa aku dengan
gengsi, setidaknya aku sudah tau keadaan kamu, sudah cukup aku ingin mengakhiri
kekhawatiranku atas kamu! Aku tidak peduli dengan gengsi. Sia-sia, kamu tidak menjawab
teleponku. Aku pikir, mungkin kamu sedang berusaha menjauhiku? Mungkin aku
sehina itu...
Bulan
demi bulan berlalu, kamu tau tidak? Kalau orang-orang bilang otakku cukup pintar,
tapi sebenarnya persaanku ini bodoh, ingin sekali aku memaki diriku sendiri
yang selalu saja dilemahkan oleh rindu. Selama satu tahun, kamu satu-satunya
orang yang aku rindukan. Sampai detik aku menulis surat ini aku bahkan tidak
tau persaanku ini perasaan terhadap teman biasa, sahabat, lebih dari itu atau
hanya sebuah kemunafikkan. Bodoh bukan? Paling tidak begini lah aku, aku tidak
akan mengganggu kamu jika memang kamu merasa begitu. Sejujurnya banyak yang aku
harapkan dari kamu, tapi biarlah harapan itu hanya menjadi sebuah harapan. Kalau
harapan selalu menjadi kenyataan, mungkin aku tidak akan pernah belajar
sakitnya pengalaman kan?
Jaga
diri kamu disana, jangan lupa untuk beribadah dan ingat kejar apapun yang kamu
mau jangan disia-siakan.
Salam Rindu
Bianca

Let it go~~ Let it goo~~
BalasHapusBtw font blognya jangan Comic Sans atuh.. :(
Baru mampir udah suka sama tulisannya :)
BalasHapusHahaha terimakasih :)
Hapus